KOMPASINDOTV.COM, JAKARTA, 12 Februari 2026 – Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI), Iskandar Husin, memprediksi harga emas dunia masih akan menunjukkan tren stabil namun cenderung naik dalam waktu dekat. Hal tersebut disampaikannya saat wawancara dengan awak media pada hari pertama Jakarta International Jewellery Fair (JIJF) ke-17 yang berlangsung pada 12–15 Februari 2026 di Assembly Hall Jakarta International Convention Center (JICC).
Menurut Iskandar, kenaikan harga emas yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari ketidakseimbangan antara permintaan dan suplai global. Permintaan emas meningkat signifikan, sementara pasokan tidak mengalami pertumbuhan yang sebanding.
“Permintaan emas sekarang sangat besar, baik dari bank sentral maupun masyarakat dunia. Ketika suplai tidak mampu mengimbangi, otomatis harga akan naik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak bank sentral di berbagai negara kini meningkatkan cadangan emas dan mengurangi ketergantungan pada valuta asing. Di sisi lain, masyarakat global — termasuk di Asia dan Eropa — semakin memilih emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik.
Iskandar menyinggung berbagai ketegangan politik internasional yang memicu kekhawatiran pasar. Ancaman konflik antarnegara dan dinamika geopolitik yang sulit diprediksi turut memengaruhi stabilitas ekonomi global. Dalam situasi seperti itu, nilai mata uang rentan melemah dan investor beralih ke emas sebagai aset yang dianggap lebih aman.
“Setiap ada isu konflik atau potensi perang, harga emas langsung bereaksi. Karena emas dianggap sebagai pilihan utama saat ekonomi global tidak stabil,” jelasnya.
Meski demikian, Iskandar menegaskan tidak ada pihak yang dapat memprediksi secara pasti berapa persen kenaikan harga emas ke depan. Namun dengan indikator yang ada, kecenderungan harga tidak akan turun drastis dalam waktu dekat.
“Prediksi kami, arahnya tetap stabil tapi naik. Tidak tiba-tiba jatuh,” katanya.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa fluktuasi harga yang terlalu cepat justru menjadi tantangan bagi pelaku usaha emas. Para pengusaha lebih menyukai harga yang stabil agar dapat mengelola stok dan arus kas dengan lebih baik.
“Kalau hari ini toko menjual 100 gram, lalu besok harga melonjak sebelum sempat restok, tentu itu menyulitkan. Kami lebih senang harga yang stabil,” ungkapnya.
Terkait investasi, Iskandar memberikan saran kepada masyarakat agar tidak membeli emas dengan orientasi jangka pendek. Menurutnya, emas batangan idealnya disimpan minimal tiga hingga lima tahun untuk mendapatkan hasil optimal.
“Jangan beli emas untuk satu tahun. Emas itu investasi jangka menengah sampai panjang,” tegasnya.
Sementara itu, di sektor perhiasan, kenaikan harga emas mendorong pelaku industri melakukan inovasi desain. Kini banyak perhiasan dibuat dengan tampilan lebih besar namun bobot lebih ringan agar tetap terjangkau oleh konsumen. Selain itu, pilihan kadar emas pun semakin beragam, mulai dari 8 karat, 16 karat hingga 22 karat, yang seluruhnya mengikuti standar SNI.
Iskandar juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar membeli emas di toko yang terpercaya serta selalu meminta invoice resmi yang mencantumkan kadar emas.
“Invoice itu penting sebagai pegangan. Jangan lupa minta bukti transaksi yang jelas,” pesannya.
Dari sisi regulasi, APEPI mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap industri emas, termasuk kebijakan perpajakan yang membantu pelaku usaha kecil dan pengrajin perhiasan. Ia berharap kebijakan tersebut dapat terus berlanjut untuk menjaga daya saing industri dalam negeri.
Melalui penyelenggaraan JIJF ke-17 tahun 2026, APEPI optimistis industri emas dan perhiasan Indonesia tetap tumbuh dan mampu menghadapi tantangan global. Di tengah dinamika ekonomi dunia, emas dinilai tetap menjadi instrumen investasi yang relevan sekaligus motor penggerak sektor riil nasional.

