JAKARTA, KOMPASINDOTV.COM — Batik Kusuma Bangsa memiliki tempat khusus dalam perjalanan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Tidak hanya berfungsi sebagai seragam, motif tersebut menyimpan filosofi tentang pendidikan, persatuan dan masa depan generasi bangsa.
Yeyen Roswargita, perancang motif sekaligus sosok yang berada di balik CV Batik Hydda Saputra asal Cirebon, mengungkapkan bahwa proses menciptakan Batik Kusuma Bangsa berangkat dari keinginan menghadirkan identitas yang memiliki makna bagi para guru.
Dalam keterangannya di Jakarta, Yeyen mengatakan motif tersebut dirancang dengan sejumlah simbol yang berkaitan langsung dengan dunia pendidikan.
Bunga menjadi salah satu elemen utama. Simbol tersebut menggambarkan guru yang mendidik dan membentuk generasi agar kelak mampu memberikan manfaat bagi bangsa.
Adapun unsur sawat dimaknai sebagai sayap yang membawa generasi muda menuju cita-cita. Sementara undakan menggambarkan perjalanan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
“Setiap bagian dari motif memiliki makna. Saya ingin batik ini tidak hanya indah dilihat, tetapi juga memiliki pesan yang dapat dirasakan para guru,” kata Yeyen.
Unsur daun dalam motif tersebut menggambarkan pertumbuhan yang terus berlangsung. Sementara bentuk rantai menyimbolkan kekuatan persatuan dan hubungan antarguru.
Bagi Yeyen, makna tersebut menjadi alasan mengapa Batik Kusuma Bangsa tidak dapat dipandang sebatas produk fesyen.
Batik itu merupakan hasil perjalanan panjang CV Batik Hydda Saputra yang telah dipercaya PGRI dalam penyediaan batik organisasi.
Produksi dilakukan berdasarkan pesanan dengan bahan yang disesuaikan, termasuk semi sutra dan berbagai tekstil berkualitas. Waktu pengerjaan berkisar dua minggu sampai satu bulan, tergantung tingkat kesulitan dan kebutuhan produksi.
Usaha keluarga tersebut kini memasuki fase regenerasi. Setelah sebelumnya dipimpin Hyuda Kharisma, kemudian Dhayu Reviany, pengelolaan usaha dilanjutkan Detya Amanda.
Yeyen tetap memberikan pendampingan karena memiliki keterlibatan sejak awal berdirinya usaha.
Ia menuturkan, perjalanan tersebut tidak semata-mata dibangun sebagai aktivitas bisnis. Ada keinginan untuk menciptakan karya yang dapat bertahan dan memberi manfaat bagi keluarga.
Kedudukan Batik Kusuma Bangsa sebagai bagian dari identitas PGRI juga memiliki dasar organisasi. Surat PB PGRI Nomor 2478/Um/PB/XXI/2003 menetapkan batik hitam-putih tersebut sebagai seragam nasional PGRI. Pengaturan mengenai standar seragam kemudian diperkuat melalui Surat PB PGRI Nomor 793/Um/PB/XXI/2013.
Karena itu, Batik Kusuma Bangsa memiliki dua dimensi sekaligus: sebagai pakaian organisasi dan sebagai simbol yang membawa pesan tentang persatuan guru Indonesia.






