Ketua Umum Paguyuban Purnakarya TMII Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

KOMPASINDOTV.COM, Jakarta, 8 Agustus 2026 – “Purnatugas bukan berarti akhir dari pengabdian.” Kalimat tersebut ditegaskan Ketua Umum Paguyuban Purnakarya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Ade F. Meyliala saat ditemui awak media di sela acara Kemuliaan Silaturahmi Purnakarya TMII di Pendopo Agung Sasono Utomo, TMII, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Didampingi Wakil Ketua Umum Paguyuban Purnakarya TMII Dwi Windyarto, Ade mengatakan pembentukan paguyuban bukan sekadar menjadi wadah berkumpulnya para mantan pegawai TMII, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga persaudaraan, merawat sejarah pengabdian, serta meneruskan kontribusi bagi kebudayaan Indonesia.

“Purnatugas itu hanya berakhirnya tugas secara kedinasan. Tetapi silaturahmi, kepedulian dan semangat pengabdian tidak boleh berhenti,” kata Ade.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah suasana silaturahmi yang dihadiri kurang lebih 700 purnakarya TMII dari wilayah Jabodetabek.

Para peserta berasal dari berbagai angkatan dan pernah mengisi beragam posisi di lingkungan TMII. Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi para purnakarya untuk kembali bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan setelah sekian lama menjalani kehidupan masing-masing.

Ade mengatakan tingginya jumlah peserta yang hadir menjadi bukti bahwa ikatan emosional para purnakarya dengan TMII masih sangat kuat.

“Kurang lebih 700 orang hadir. Ini menunjukkan bahwa rasa kekeluargaan itu masih ada dan sangat kuat. Kita pernah bersama-sama bekerja di TMII, melewati suka dan duka, sehingga hubungan itu tidak boleh hilang hanya karena kita sudah pensiun,” ujarnya.

Menurut Ade, TMII memiliki tempat khusus dalam perjalanan hidup para purnakarya.

Bagi mereka, TMII bukan hanya tempat bekerja, melainkan juga ruang tempat mereka membangun persahabatan, mengembangkan karier, sekaligus memberikan kontribusi dalam memperkenalkan kebudayaan Indonesia.

Karena itu, pembentukan Paguyuban Purnakarya TMII diharapkan dapat menjadi rumah bersama bagi seluruh mantan pegawai TMII.

“Kita ingin paguyuban ini menjadi rumah bersama. Tidak melihat dulu jabatannya apa, bekerja di unit mana atau angkatan berapa. Kita semua pernah menjadi bagian dari keluarga besar TMII,” tutur Ade.

Kenangan Menjadi Kekuatan untuk Melangkah

Mengusung tema “Kenangan Terajut, Kebersamaan Berlanjut”, kegiatan tersebut sengaja dirancang bukan hanya sebagai acara temu kangen, tetapi sebagai momentum untuk membangun kembali komunikasi antarpurnakarya.

Ade menilai pengalaman masa lalu merupakan kekuatan yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi masa depan.

“Kenangan bukan hanya untuk dikenang. Dari kenangan itu ada pengalaman, ada pembelajaran dan ada nilai-nilai yang bisa kita teruskan,” katanya.

Ia menyebut banyak purnakarya yang memiliki pengalaman panjang dan memahami perjalanan TMII dari berbagai periode.

Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan aset yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan masukan kepada generasi penerus.

“Banyak senior kita yang memiliki pengalaman luar biasa. Ada pengetahuan yang didapat selama puluhan tahun bekerja. Itu harus kita jaga dan kalau bisa kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ungkap Ade.

Menjaga Identitas Budaya di Tengah Modernisasi

Ade juga menyoroti perkembangan TMII yang terus mengalami perubahan.

Menurutnya, modernisasi merupakan bagian dari perkembangan zaman yang harus disambut, tetapi tidak boleh menghilangkan karakter utama TMII sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Indonesia.

“Kita mendukung modernisasi. Tetapi modernisasi jangan sampai menghilangkan identitas. TMII tetap harus menjadi rumah budaya Indonesia,” tegasnya.

Ia berharap para purnakarya dapat menjadi bagian dari proses tersebut dengan memberikan pemikiran berdasarkan pengalaman yang mereka miliki.

“Purnakarya bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Kita punya pengalaman sejarah, sementara generasi sekarang memiliki kemampuan dan teknologi yang berkembang. Kalau disatukan, tentu akan menjadi kekuatan,” ujarnya.

Dwi Windyarto: Kebersamaan Harus Terus Dijaga

Wakil Ketua Umum Paguyuban Purnakarya TMII Dwi Windyarto menambahkan bahwa salah satu fokus utama paguyuban adalah menjaga komunikasi dan hubungan kekeluargaan antaranggota.

Dwi mengapresiasi kehadiran sekitar 700 purnakarya dalam acara tersebut.

“Antusiasme teman-teman sangat luar biasa. Mereka datang dari berbagai wilayah Jabodetabek. Ini membuktikan bahwa kebutuhan untuk bersilaturahmi dan berkumpul masih sangat kuat,” kata Dwi.

Menurut Dwi, kegiatan silaturahmi tidak boleh berhenti setelah acara selesai.

“Kita ingin kebersamaan ini terus berlanjut. Jangan hanya bertemu setahun sekali. Komunikasi harus dijaga dan kegiatan yang memberikan manfaat bagi anggota harus terus dikembangkan,” ujarnya.

Ia juga berharap para purnakarya dapat tetap memberikan kontribusi berdasarkan pengalaman dan kemampuan masing-masing.

“Kita memang sudah purnatugas, tetapi bukan berarti kita tidak bisa memberikan manfaat. Kita masih memiliki pengalaman yang bisa dibagikan,” tutur Dwi.

Tali Asih untuk Purnakarya

Dalam rangkaian acara tersebut, panitia juga memberikan tali asih kepada 10 orang perwakilan purnakarya dari hampir 54 orang.

Pemberian tali asih menjadi simbol penghargaan terhadap para purnakarya atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama berada di lingkungan TMII.

“Ini bukan soal besar kecilnya tali asih. Yang paling penting adalah bentuk perhatian dan penghargaan kita kepada para senior yang sudah memberikan pengabdian,” kata Ade.

Pemotongan Tumpeng Jadi Simbol Dimulainya Perjalanan Paguyuban

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Sugiono, mantan Direktur TMII pada masanya.

Tumpeng tersebut kemudian diserahkan kepada Ketua Umum Paguyuban Purnakarya TMII Ade F. Meyliala.

Dalam prosesi tersebut, Ade didampingi Wakil Ketua Umum Dwi Windyarto beserta jajaran pengurus Paguyuban Purnakarya TMII.

Ade mengatakan pemotongan tumpeng tersebut menjadi simbol rasa syukur dan harapan agar perjalanan paguyuban dapat berjalan dengan baik.

“Ini menjadi awal perjalanan kita. Mudah-mudahan paguyuban ini semakin solid dan bisa memberikan manfaat bagi seluruh anggota serta ikut memberikan kontribusi positif bagi TMII,” ujarnya.

Acara tersebut juga dihadiri Direktur Operasional TMII Dede Noviardi yang menyampaikan sambutan.

Selain itu, hadir Bambang Sutanto, mantan Direktur TMII pada masanya, serta sejumlah mantan direktur, manajer dan tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan TMII.

Di antaranya Sugiono beserta Ibu, Bambang Parikesit, Suweden beserta Ibu, H. Rizal, Rhonny K, Bordan dari Skyword, Ali Mulahela, Ery Subada, Alex dari Taman Legenda Keong Emas, Tedy Jusuf dari Museum Tionghoa, Ibu Ivon dari Sasana Kriya, Diniwaty Abidin (Eldadi) dari Unit Usaha, Poppy Savitri dari IAAI, Youk Tanzil dari TTA, Imam Rumekso, serta Issantoso.

Sementara Bapak Tanri tercatat sebagai undangan dengan kehadiran yang masih tentatif.

Purnatugas Bukan Berarti Berhenti Berkarya

Ade kembali menegaskan bahwa keberadaan Paguyuban Purnakarya TMII diharapkan dapat membawa semangat baru bagi para mantan pegawai TMII.

Ia ingin para purnakarya tetap merasa menjadi bagian dari keluarga besar TMII.

“Kita ingin membuktikan bahwa purnatugas bukan akhir dari perjalanan. Kita tetap bisa bersilaturahmi, berbagi pengalaman dan memberikan manfaat bagi orang lain,” katanya.

Menurut Ade, semangat tersebut sejalan dengan tema kegiatan yang menjadi pesan utama bagi seluruh peserta.

“Kenangan terajut, kebersamaan berlanjut. Itu bukan hanya slogan, tetapi menjadi semangat kita bersama,” ujarnya.

Ia pun mengajak seluruh purnakarya untuk menjaga persaudaraan yang telah terbentuk.

“Jangan pernah lupakan teman-teman seperjuangan. Karena pada akhirnya yang kita bawa bukan jabatan, tetapi persaudaraan dan kebaikan yang pernah kita bangun bersama,” pungkas Ade.

Kegiatan Kemuliaan Silaturahmi Purnakarya TMII di Pendopo Agung Sasono Utomo, Sabtu (8/8/2026), menjadi tonggak awal perjalanan Paguyuban Purnakarya TMII dalam membangun wadah kebersamaan yang lebih terorganisasi.

Dengan dukungan para purnakarya dari berbagai angkatan serta kehadiran jajaran pengelola dan mantan pimpinan TMII, paguyuban diharapkan mampu menjadi ruang silaturahmi sekaligus wadah untuk menjaga sejarah pengabdian dan semangat pelestarian budaya Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *